Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2024

CIUM

Untuk dua orang yang sedang kencan pertama, berbagi cerita horor mungkin hal terakhir yang seharusnya mereka lakukan. Tapi, inilah yang terjadi dengan Oki dan Rahma. Inilah yang terjadi jika dua orang sudah kehabisan bahan obrolan. Mereka berdua duduk di ruang tunggu kosan Rahma, sesaat setelah mereka nonton film di Epicentrum Walk. Kosan ini khusus putri, ibu kosnya galak, dan tamu laki-laki hanya boleh sampai di ruang tunggu. Tamu laki-laki bahkan tidak boleh memakai toilet, karena terakhir kali ada pacar seorang penghuni kos numpang buang air besar di toilet tamu, pintunya lupa dikunci. Si tamu sih asik aja jongkok menghadap ke depan pintu berjuang dengan hebat, tapi begitu ada perempuan, penghuni lain, membuka pintu itu, si tamu terkejut sampai berguling di lantai dan si perempuan menjerit membangunkan seisi kos malam itu. Di atas sofa coklat kosan, dengan kaki naik ke atas, Rahma mulai membuka cerita horor. Cerita yang standar saja, tentang bagaimana...

JALAN PERSIMPANGAN

‘Jadi kita ini apa?’ tanyaku sambil mengunyah batagor yang mulai dingin. ‘Indah,’ kata Ardi, memanggil namaku. ‘Kita ini ya Homo Sapiens. Manusia. Lo tuh tidur mulu sih pas lagi pelajaran biologi.’ Ardi sering menghindari pertanyaan yang sulit dengan candaan, tapi kali ini aku butuh penjelasan. Kami berdua sudah dekat selama setahun belakang, dan pada momen kelulusan SMA saat ini, di depan abang-abang batagor depan sekolah yang sedang mencabut jenggotnya dengan dua keping uang 500 rupiah, aku rasa pertanyaanku cukup wajar. Hubungan kami dimulai dari pelajaran Bahasa Indonesia. Dimana kami, yang terpaksa tergabung dalam satu kelompok setelah ditunjuk oleh guru, harus membuat makalah dan mempresentasikan Jakarta Di Tahun 2023. Sekarang tahun 2002, apa pun bisa terjadi 21 tahun lagi. Kami diminta menggunakan imajinasi kami untuk membayangkannya. Tugas ini untuk tiga orang, tapi teman kami yang satu lagi tiba-tiba kena diare akut. ‘Pasti gar...

KENAPA HARUS TEMAN?

“Teteteretet dunk dunk dor aw” Bunyi alarm Sang Bunglon, sedikit demi sedikit mulai membukakan matanya, yang masih beranjau kekantukan. Dipagi hari sekali Kori bangun di kamar kosan, yang udah seminggu belum pernah di Reboisasi. Bayangkanlah sampah dan cucian bersatu menjadi es campur di kamarnya. Kori atau panggilan sayang dari pacarnya Bunglon, memang sulit beradaptasi dengan hal baru, sebelumnya dia tinggal bersama Orang tua, tapi 7 hari kebelakang, dia tinggal mandiri di kosannya. Dengan misi untuk menuntaskan Prakerin. Nama lengkapnya Wais Al Bukhori, lebih lengkapnya lagi Bunglon Hitam Putih. Kori bergegas mempersiapkan dirinya untuk berangkat ketempat prakerin. Tiba-tiba terdengar suara dari pintu masuk kosannya: “Tok, tok, tok, Meong.” ”Kori, Ayo mamen cepet kita berangkat” “Ya sip, Tunggu 400 detik lagi, bro” Sahut kori dari dalam.   (400 DETIK KEMUDIAN) Kori berangkat sama temennya, emm. Tunggu Gue lupa namanya! Oiya, Bimo. Punya panggilan yang lebih a...