Postingan

TIDUR

Sudah dua menit lebih Niko menatapi dua angsa di atas kasur. Dua angsa itu dibentuk dari handuk yang dililit, sayapnya dari handuk yang lebih kecil dilipat rapi. Di atas kasur, di bawah angsa, ada tulisan ‘Happy Honeymoon’. Pada situasi yang tepat, ini adalah service yang istimewa dari sebuah resort mewah. Namun, Niko tidak bisa menahan rasa kesal, bercampur sedih, juga kecewa.  Dia melepaskan pegangan dari koper, lalu memencet telepon yang ada di kamarnya. Resepsionis mengangkat. Tanpa jeda, Niko berkata, ‘Saya sudah bilang di email kalau saya datang sendiri. Tidak dengan istri, uh, pasangan saya. Tolong jangan kasih saya ucapan happy honeymoon seperti ini.’  Resepsionis meminta maaf, lalu bertanya, ‘Berarti rencana romantic dinner di restoran kami nanti malam tidak jadi ya, Pak?’ Niko langsung menutup teleponnya, kesal. Di bagian mana dari “datang sendiri” yang dia tidak paham? Seharusnya tujuh hari ke depan menjadi bulan madunya yang istimewa, tapi Niko batal menikah dengan...

KUPING

Ketiga kalinya Toni mencoba memegang kupingku, aku tidak bisa tahan lagi. Kebiasaan memegang kuping sebelum tidur ini membuatku risih. Awalnya memang tidak apa-apa, tetapi lama-kelamaan aku jadi susah tidur: kuping panas dan lengket, hasil dari tangan dia yang penuh keringat. Toni masih umur lima tahun, tetapi tangannya cukup berat untuk membuat ujung kupingku jadi melar ke bawah. Rasanya seperti ada Ant-Man gelantungan di sana. Sakitnya bisa berhari-hari, terutama di batas antara kuping dengan pipi. Sebelum tidur, aku sudah bilang ke Toni mulai malam ini tidak ada pegang-memegang kuping lagi. Dia bilang iya. Tapi, yah, seorang balita mungkin masih belajar memegang janji. Diam-diam, waktu aku sudah merem, Toni dua kali memegangnya. Percobaan pertama dan kedua, aku masih bisa menghalaunya. Namun, di percobaan ketiga ini, baru aku protes. ‘Cukup, Ton. Papa gak bisa tidur,’ kataku. ‘Kalau gak pegang kuping, aku yang gak bisa tidur, Pa,’ kata Toni memelas. ‘Enggak, pokoknya enggak,’ kataku...